Rabu, 03 November 2010

larosmania selalu di hati


Mendengar sebutan Minakjinggo pasti kita tidak asing lagi. Kata Minakjinggo sering muncul di layar kaca sebagai iklan sebuah rokok, yang terkenal dengan slogan “JINGGO…. JINGGO … JINGGO…. HHUUUUHGGGG”.

Tapi siapakah Minakjinggo?

Dalam cerita rakyat jawa yang telah menjadi legenda atau juga lebih populer yaitu “Damarwulan - Minakjinggo”. Legenda ini terjadi pada jaman kerajaan majapahit disaat “Ratu Kencana Wungu” berkuasa. Minakjinggo dengan Kerajaan Blambangan yang merupakan kerajaan bawahan majapahit, merasa tertarik dengan kecantikan Ratu Kencana Wungu dan berusaha melamarnya untuk dijadikan isteri. Tapi Ratu Kencana Wungu menolak karena Minakjinggo berwajah seperti raksasa (menurut cerita rakyat) dan Minakjinggo sendiri sebenarnya juga sudah punya 2 isteri yaitu Dewi Waita dan Dewi Punyengan. Dengan penolakan tersebut terjadilah pemberontakan oleh Minakjinggo terhadap Majapahit. Tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian Minakjinggo yang terkenal dengan pusaka Gada Wesi Kuning, sampai akhirnya Ratu Kencana Wungu membuat sayembara “barang siapa bisa mengalahkan Minakjinggo akan mendapat hadiah”. Datanglah Damarwulan yang mengajukan diri mengikuti sayembara melawan Minakjinggo. Akhirnya Minakjinggo dikalahkan Damarwulan setelah Damarwulan mampu mencuri pusaka Gada Wesi Kuning lewat bantuan kedua isteri Minakjinggo, yaitu Dewi Waita dan Dewi Punyengan. Singkat cerita Damarwulan menjadi Raja Kerajaan Majapahit dengan meminang Kencana Wungu, dan juga Damarwulan beristri Dewi Waita dan Dewi Punyengan sebagai balas jasa telah membantunya.

Berdasarkan penelusuran, letak Kerajaan Blambangan berada di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal di Alas Purwo. Beberapa penemuan sejarah lainnya berupa tembok bekas benteng kerajaan Blambangan sepanjang lebih kurang 5 km terpendam pada kedalaman 1 - 0.5 m dari permukaan tanah dan membentang dari masjid pasar muncar hingga di areal persawahan Desa Tembok Rejo. Juga ada Siti Hinggil atau oleh masyarakat lebih di kenal dengan sebutan setinggil yang artinya Siti adalah tanah, Hinggil/inggil adalah tinggi. Objek Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan pasar muncar (lebih kurang 400 meter arah utara TPI/Tempat Pelelangan ikan). Siti Hinggil ini merupakan pos pengawasan pelabuhan/syah bandar yang berkuasa pada masa kerajaan Blambangan, berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing yang mempunyai “keistimewaan” untuk mengawasi keadaan di sekitar teluk pang Pang dan Semenanjung Blambangan. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang kini tersimpan di museum daerah berupa Guci dan asesoris gelang lengan, sedangkan kolam dan Sumur kuno yang di temukan masih berada di sekitar Pura Agung Blambangan yaitu di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Itulah sekelumit cerita tentang Minakjinggo dengan Kerajaan Blambangan. Kembali Kepada bahasan sebelumnya yaitu “Minakjinggo… Ikon Banyuwangi atau Probolinggo?”

Mungkin kalau sebagai Ikon Banyuwangi sudah wajar dan logis, karena berdasarkan sejarah atau cerita rakyat dan letak geografis Blambangan berada di wilayah Banyuwangi… Disamping itu julukan untuk suporter “PERSEWANGI” tim sepakbola masyarakat Banyuwangi yaitu “Laskar Blambangan” atau “ The Lasblang”

Di Probolinggo, yang juga punya tim sepakbola “PERSIPRO” juga mempunyai supporter setia, tetapi herannya julukan mereka adalah ‘Laskar Minakjinggo” atau “ The Lasminggo”.
Tapi mengapa masyarakat Probolinggo bangga menggunakan nama Minakjinggo? Alasannya mungkin hanya pendiri atau sesepuh supporter Persipro yang tahu.

Tapi biarlah….. sebagai warga blambangan saya bangga, setidaknya Minakjinggo yang dalam cerita rakyat yang sudah melegenda dan digambarkan sebagai sosok yang jahat, pemberontak, jelek, seperti raksasa, tapi saat ini kenyataan Minakjinggo tetap sebagai ikon kebanggaan Banyuwangi dan nama suporter sepakbola Probolinggo, bahkan juga sebagai nama rokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar